Posts

Akar Problem Masyarakat Nelayan

Image
Foto: Dokumentasi pribadi Momentum Hari Nelayan Nasional, 6 April 2019 ini sejatinya menyadarkan kita semua. Mereka yang berkontribusi memenuhi kebutuhan protein kita, juga butuh atensi. Hari Nelayan Nasional bertujuan untuk mengapresiasi para nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil laut. Tentu, ini harus disambut dan dirayakan. Hal itu dilakukan sebelum gempita pesta demokrasi menenggelamkan suara dari masyarakat nelayan, yang kebanyakan hidup di pinggir laut dan pulau-pulau kecil. Sebab, 17 April nanti, pemimpin negeri dan para wakil rakyat akan dipilih. Masyarakat nelayan memang sering tidak menjadi pembahasan utama dalam adu gagasan dan kampanye janji para calon pemimpin negeri dan calon wakil rakyat. Isu mengenai petani, buruh, aparatur sipil negara dan kelompok masyarakat lain lebih sering terdengar, daripada isu mengenai masyarakat nelayan. Padahal, masyarakat nelayan memiliki probelematikanya tersendiri. Hal itu mengingat karakteristik masyarakat nelaya...

Resensi Novel Kambing dan Hujan – Mahfud Ikhwan

Image
Foto: dokumentasi pribadi Berbeda bukan berarti tidak bisa berdampingan. Berbeda juga tidak lantas membuat kata bersama jadi mustahil terjadi. Karena dengan bersama, kita semua jadi tahu bahwa hal-hal yang beda itu nyata adanya. Kira-kira begitulah pesan yang saya tangkap selepas membaca novel Kambing dan Hujan, anggitan Mahfud Ikhwan. Novel setebal 380 halaman ini tentu tidak dapat dikatakan karya yang biasa saja. Cap sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 jadi jaminan bahwa Kambing dan Hujan bukan karya yang sembarangan. Kambing dan Hujan adalah sebuah roman. Roman yang menceritakan kisah yang agak mirip dengan Romeo dan Juliet. Dimana dua individu dari dua kelompok berbeda yang saling jatuh cinta. Keduanya pun mesti melewati berbagai halangan untuk bisa bersama. Dan tentu saja halangan terbesar datang dari latar belakang kelompok mereka. Tapi saya menyarankan agar kalian jangan membayangkan Kambing dan Hujan bakal berakhir tragis seperti kis...

Pedagang di Trotoar Pinggir Jalan

Image
Foto: dokumentasi pribadi Plak. Sebuah kartu domino dibanting di atas meja. Bersamaan dengan itu, seseorang tertawa puas. Tiga orang lain yang ada di dekatnya tampak mengeluh. Di tangan ketiga orang yang mengeluh itu, masih memegang kartu domino. Salah seorang diantaranya tampak ditertawakan. Pasalnya, kartu yang ia pegang adalah double enam, nominal paling besar dalam permainan domino. “Hahaha, kenapa kau simpan terus itu rel kereta-kartu double enam-.” “Gara-gara kalian halangi, jadi saya simpan ki, hahaha” Keempat orang itu memang sudah sedari tadi asyik main kartu. Selepas magrib, mereka sudah berkumpul. Yang tertawa puas bernama Ruddin. Yang ditertawakan ialah Kasman. Sedang sisanya ialah Ralla dan Nompo. Mereka berempat adalah para pedagang di atas trotoar di pinggir jalan utama kota. Ruddin adalah yang tertua dari mereka. Setahun lagi, usianya genap enam puluh tahun. Dari mereka berempat, Ruddin pula yang pertama berjualan di atas trotoar di pinggir jalan ...

Kau Merasa Seperti Sisifus

Image
sumber gambar: https://publicdomainvectors.org Di kamar kost yang berantakan, kau merebahkan diri. Irama musik berdentum keras dari komputer jinjing di atas meja. Rupanya kau tengah mendengar lagu dari kelompok musik favoritmu, Nirvana. Lirik lagu berjudul ‘smells like teen spirit’ masuk ke telingamu dan berputar terus hingga ke otakmu. Sekali-kali kau ikut bernyanyi. Mengeraskan suara pada bagian yang cukup mudah untuk diucapkan; Its fun to lose and to pretend ... Hello, hello, hello, how low ... I feel stupid and contagious Sisanya kau tampak merenung dan matamu menatap langit-langit kamar kos yang ukurannya hampir sama dengan pos satpam di pintu masuk 1 kampusmu. Entah apa yang kau pikirkan saat itu. Nampaknya kau sudah lama tidak mengurus dirimu. Bajumu tak pernah kau ganti. Itu-itu saja dan masih sama sejak terakhir kita berjumpa di warung kopi satu bulan yang lalu. Ah, tentu saja kau tidak ganti baju, pakaianmu yang lain sepertinya memang tidak ...

Jangan Persempit Literatur Kami!

Image
gambar: issu.com Bacalah buku maka kau akan melihat dunia. Membaca buku berarti membuka cakrawala. Bukalah jendela dunia, maka kau akan melihat pemandangan baru. Buku membuat kita menyelami pemikiran orang lain-penulis. Dengan bertualang di lahan aksara dan menyelami setiap makna, wawasan dan kebijaksanaan akan merasuk ke dalam pikiran kita. Setiap buku pasti membawa manfaat. Satu-satunya buku yang tak bermanfaat adalah buku yang tak pernah kita baca.               Para tokoh negeri ini pun sebagaian besar penikmat dan penulis buku. Sebut saja, Hatta yang rela dipenjara asalkan bersama sekoper buku-buku, Tan Malaka yang begitu produktif menuliskan pemikirannya mejadi sebuah buku, dan Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia pernah berkata “kemajuan bangsa ini bertumpu pada kemampuan membaca banyak buku”             Namun, di negeri ini buku ialah sebuah i...

Pilihan Ketiga yang Diambil Lelaki Tua

Image
dokumentasi pribadi. Di beranda rumah panggung khas Bugis, selepas menerima panggilan telepon, seorang berkopiah hitam duduk. Sorot mata lelaki tua itu tajam. Seolah ada benda di atas sana yang ia pandangi lekat-lekat. Beberapi kali ia menghela nafas. Mencoba menenangkan diri. Bahkan riuh anak kecil di jalan depan rumahnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Lelaki tua itu pun beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah perlahan di atas lantai kayu yang berderit setiap kali kaki memijak. Bila orang lain yang berjalan di atas rumah lelaki tua itu, mungkin saja orang itu akan bergidik ketakutan. Was-was. Bagaimana tidak, lantai rumah itu sudah tidak kokoh lagi. Ruas-ruas bekas santapan rayap telah tampak di sana sini. Jika kaki terlalu kuat berpijak atau kalau sengaja ditekan kuat-kuat, maka akan terdengar bunyi kreks! Seperti suara kerupuk atau wafer saat pertama kali dikunyah. Rumah panggung miliknya memang sudah tua. Ia membangun rumah itu ketika usianya hampir mencap...

Resensi Novel: Tempat Paling Sunyi - Arafat Nur

Image
Ambisi Berujung Sunyi dokumentasi pribadi Setiap individu pasti punya ambisi. Sebuah tujuan yang hendak dicapai dalam hidup. Entah itu harta, tahta dan ragam macam lainnya. Ambisi itu terus dikejar, walau waktu untuk mendapatkannya tak kunjung tiba, tetapi semangat untuk meriahnya tetap menyala dalam dada. Ambisi, itulah yang membuat hidup jadi terarah. Namun seringkali, tantangan datang silih berganti, untuk menguji seberapa serius kita dalam mencapai ambisi tersebut. Dua premis –ambisi dan ragam macam tantangannya- itu yang jadi narasi utama di bab awal dari novel Tempat Paling Sunyi, karangan Arafat Nur. Novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2015, ini bercerita mengenai seorang juru ketik yang berambisi membuat sebuah novel. Tokoh itu bernama Mustafa. Mustafa, dikisahkan oleh Arafat Nur, sebagai orang yang percaya bahwa novel bisa merubah dunia. Namun nasibnya memang malang, Mustafa hidup di lingkungan yang orang-orangnya tidak menyukai buku dan...